Posted by: yonariza | January 24, 2014

DOKTER HUMANIS DAN DOKTER MATERIALISTIS

Sekali dalam hidup kita, kita mungkin akan memerlukan jasa dokter. Kita harus berhati hati sekali ketika akan menggunakan jasa dokter, karena dokter itu adalah juga manusia biasa seperti kita. Makanya adegium, second opinion menjadi kamus umum dalam hal pemanfaatan jasa dokter. Di rumah sakit saja, para dokter itu berdikusi dulu dengan teman sejawat sebelum menyimpulkan hasil diagnosa pasien.

Dalam kesempitan waktu ini (karena memang ndak pernah pintar mengatur waktu) saya mencoba menulis pengalaman seminggu ini berhubungan dengan dokter.  Kesimpulan sementara ada dokter yang humanis dan dokter materialis. Dokter humanis adalah dokter yang sangat memperhatikan perasaan dan logika ketika melayani pasien, dokter materilistis adalah dokter yang melihat peluang materi dari penderitaan pasien. Namun demikian, sebagai manusia biasa, masing masing dokter tentu memiliki sifat itu, humanis dan materialistis, dalam kadar yang berbeda beda. Maka berdasarkan kombinasi humanis dan materialis akan menghasilkan empat kategori dokter; dokter rendah humanis dan rendah materilistis, dokter rendah humanis tinggi materilistis, dokter tinggi humanis dan rendah materilistis, dan dokter tinggi humanis dan tinggi materilistis.  Kategori ini mungkin terlalu  sederhana, tapi akan lebih mudah mengurainya.  Ceritanya begini.

Anak saya yang berusia 20 tahun mengeluh sakit gigi dan sakit kepala berbarengan yang sudah berlangsung beberapa waktu. Dia sudah coba periksa di rumah sakit kampus, kesimpulannya dia mengalami impaksi, geraham bungsunya tumbuh abnormal, miring sehingga menekan geraham di depannya. Geraham itu sendiri belum keluar masih berselimut di bawah gusi. Rekomendasi dokter gigi, OPERASI,  dengan mencabut geraham bungsu itu.  Ini setelah melihat hasil ronzen panoramic gigi anak saya.

Kebetulan anak saya kuliah di kota lain dan sebagai PNS kami berfikir bagaimana agar operasi itu dibiayai oleh asuransi kesehatan yang kami punyai dan bagaimana agar biaya biaya lainnya lebih enteng. Misal kalau dia operasi di kota tempat dia kuliah, salah seorang kami orang tuanya harus kesana mendampingi. Maka kami putuskan menyuruh anak pulang dan operasi akan dilakukan di kota tempat kami. Kamipun aktif cari informasi tentang dokter yang handal untuk melakukan operasi itu dan mesti pula harus bisa menggunakan  asuransi kesehatan yang ada untuk biayanya.  Anakpun mencari informasi pula dari teman temannya yang kuliah di FKG.

Kami dapat nama dokter handal dan spesialis bedah mulut. Kami kosultasikan kepada dokter itu, jawabannya sangat mencengangkan TIDAK PERLU OPERASI! Kami senang saja mendengarnya, tapi anak kami terus mengeluh sakit kepala dan sudah lama minum obat penghilang rasa sakit, minum obat jenis inipun menimbulkan kecemasan kami, jangan jangan kalau dimium berketerusan menimbulkan efek samping yang kami duga duga saja. Dokter menyarankan untuk meneruskan minum obat pemenang itu mungkin sampai 6 bulan sampai akhirnya geraham bungsu itu keluar. Beliau mengatakan mindset saja menghubungkan hubungkan sakit kepala dengan sakit gigi. Jangan lah terlalu menghubungkan kedunya, coba juga periksa mata, kata dokter itu. Sayangnya cara dokter itu menjelaskan kurang memuaskan kami, dokter ini kurang humanis. Beliau malah terkesan merendahkan diagnosa dokter gigi sebelumnya.  Namun demikian,  beliau tidak pula berusaha mencari keuntungan di atas penderitaan kami. Dokter ini kurang materialistis, beliau hanya minta jasa konsultasi saja sesuai tarif. Selanjutnya disebut Dokter 1.

Tidak terlalu puas dengan penjelasan dokter itu yang tampak seolah olah mengentengkan keluhan anak, mengaitkan sakit kepala dengan hal hal lain,  kami pun mencari dokter lain, teman temanpun merekomendasikan nama lain. Kami konsultasi lagi kepada Dokter 2, jawabannya HARUS OPERASI, kebetulan dia memang buka praktek dan melakukan operasi sendiri, sayangnya biaya operasi ndak bisa dibayar dengan  asuransi kesehatan kami, jadi harus tunai! Dokter itu bilang tidak ada jalan lain. Dia pun mematok harga dan menawarkan servis tambahan. Pikiran saya berkata lain, dokter ini jelas sekali nuansa jualannya. Kami bilang, akan pikir pikir dulu. Kami sebenarnya sudah menerima keputusan operasi, cuma kami ingin memanfaatkan asuransi yang ada.  Dokter 2 ini sangat materialis dan kurang humanis.

Usaha berikutnya kami mendaftarkan anak ke rumah sakit pemerintah dan konsultasi lanjutan dengan dokter di sana. Menurut dokter RS, anak saya akan ditangani nanti oleh dokter spesialis bedah mulut yang tidak lain adalah Dokter 1, satu-satunya spesialis bedah mulut di kota ini. Kami bingung juga, bagaimana akan menghadapi dokter itu lagi. Menjelang hari akan bertemu dengan Dokter 1, kami coba pula membawa anak ke sebuah RS swasta yang melayani pasien dengan asuransi kesehatan yang kami miliki. Jawabannya bahwa nanti yang akan menangani adalah Dokter 1 lagi. Aduh mak, mungkin kami akan mambana OPERASI JUO LAH ANAK KAMI pak.

Kami diskusikan terus persoalan anak kami kepada teman teman, muncul lagi nama dokter lain, beliau ini dipandang sebagai dokter gigi brilliant, lulus dengan predikat dengan pujian. Kamipun konsultasi lagi. Jawaban beliau TIDAK PERLU OPERASI. Cara beliau menjelaskan tidak perlu operasi membuat anak saya tenang, beliau mengatakan kalau menghubungkan sakit kepala dan sakit gigi itu adalah MIND SET saja, beliau mendorong anak saya untuk mencoba tidak menghubungkan keduanya, dan minum obat penghilang rasa sakit tidak apa, sepanjang diminum setelah makan. Beliau menyarankan kepada anak saya untuk tidak selalu memikirkan kaitan sakit kepala dan sakit gigi. Lebih meyakinkan lagi beliau bilang, masih ada ruang di rahang anak kami untuk geraham bungsu itu. Tunggu saja sampai geraham itu tumbuh. Dalam usia anak kami sekarang adalah masa masa tumbuhnya geraham bungsu. Dokter juga menyarankan anak untuk melatih gerahamnya dengan banyak mengunyah seperti makan tebu, atau makan permenkaret 2 kali sehari, selama 15 menit pagi dan 15 menit sore. Anak anak sekarang kata dokter itu kurang banyak mengunyah makanan seperti tebu itu sehingga rahangnya tidak cukup kuat. Orang dulu makan tebu, anak sekarang hanya minum air tebunya. Cara dokter ini memberikan sugesti sangat menenangkan kami dan membuat anak kami ceria, anak seolah mengiyakan pendapat dokter dan setuju untuk melawan penyakitnya. Selesai konsultasi kami tanya biayanya, jawabannya sangat mengejutkan.  NDAK USAH BAYAR. Aduh mak, betapa baiknya dokter ini. Dia humanis dan tidak materialistis!

Jadi dari empat kategori di atas; kami menemukan tiga diantara kategori itu; seperti dalam tabel dibawah ini.

 

Materialistis

Humanis
  • Rendah 
  •  Tinggi 
  • Rendah

Dokter 1

Dokter 2

  • Tinggi

Dokter 3

Ndak sempat ketemu

 

Semoga anak kami berhasil melawan rasa sakitnya.

Pelajaran;

Kalau anda berkonsultasi dengan dokter tidak cukup hanya sampai second opinion, lanjutkan ke third opinion, bahkan fourth opinion dan seterusnya. Ini mutlak!

Dari empat kategori di atas, kategori mana saja yang dapat anda terima? 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: